Tata Cara Perawatan.

Setelah proses karantina/adaptasi dilakukan dengan benar, masukan bibit kekolam pembesaran dan kemudian lakukan perawatan.
Cara melakukan penebaran bibit belut ke kolam pembesaran, sama seperti jika kita menebar bibit-bibit ikan lainnya
di ambil dari Sumber : http://belutpurbalingga.blogspot.com

Pakan dan Pengaturan Air
Meskipun sudah banyak ilmuwan-ilmuwan dan peneliti berpendapat "Waktu pemberian pakan pada belut adalah sore menjelang malam, karena belut aktif pada malam hari" namun dalam budidaya belut di air bersih yang sudah saya (nono belut) terapkan pemberian pakan bisa dilakukan dalam sehari semalam 3 kali (pagi,siang dan sore hari) dengan dosis 5% dari jumlah benih yang ditebar.
Pemberian pakan bisa dilakukan 3 kali dalam sehari semalam kalau kita sudah memenuhi unsur KENYAMANAN bagi belut itu sendiri.
Sedangkan faktor kenyamanan terdiri faktor internal dan eksternal :

1. Faktor internal.
  •  Media harus tersedia yaitu. Substrat ( paralon, atau genteng, roster, eceng gondok maupun kiambang, dsb)
  •  Faktor Oksigen. (sangat berpengaruh besar terhadap reaksi dan nafsu makan, sekaligus kelangsungan hidup) Khusus Untuk budidaya air bersih, faktor oksigen sangat berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup dan daya nafsu makan belut). Air menjadi syarat utama kolam pemeliharaan belut, karena itu lubang sirkulasi air dan lubang pembuangan kelebihan air menjadi syarat utama. Air harus terus mengalir dari sumber air agar oksigen terlarut tetap terjaga persediaannya. Jika air yang masuk terlalu deras, belut akan terganggu dan stress, untuk itu usahakan air yang masuk/mengalir kedalam kolam cukup dengan debit yang kecil supaya belut tidak terganggu.
2. Faktor Eksternal.
  •  Faktor eksternal adalah suasana Gelap dan tenang. ( Gelap berarti tempat harus ditutup dengan terpal hitam atau coklat, tidak boleh warna terang atau tembus cahaya, Tenang berarti tidak boleh ada aktifitas lain di lingkungan budidaya)
  •  Pakan, pemberian pakan bisa di lakukan dalam sehari semalam 3 kali bisa berjalan apabila Faktor eksternal dan internal terpenuhi.
Untuk menjaga nafsu makan belut supaya selalu tetap setabil dapat diberikan jamu empon-empon, bahan-bahan bakunya seperti "temulawak (curcuma xanthorhiza), kunyit (Curcuma longa Linn. syn. Curcuma domestica Val), kencur (Kaempferia galanga L) dan temu ireng (Curcuma aeroginosa) . untuk perbandingan 1,5 : 0,5 : 0,5 : 0,5. Ada dua cara pembuatan jamu  nafsu makan tersebut antara lain :
Di ambil dari Sumber : http://belutpurbalingga.blogspot.com

Cara Pertama
Langkah I :
Pembuatan Biang.
Bahan : Dekomposer 1 ons gula pasir atau tetes tebu. 5 liter air kelapa dan 5 liter air cucian beras atau 10 liter air dicampur dengan 2 ons bekatul halus, diaduk lalu diambil airnya (disaring).
Di ambil dari Sumber : http://belutpurbalingga.blogspot.com
Cara membuat Biang :
Ketiga bahan tersebut dicampur, diaduk dalam ember, kemudian ditutup dengan rapat. Kemudian Diletakkan dalam ruangan yang gelap dan tidak boleh terkena air hujan maupun sinar matahari.
Sehari sekali digoyang goyangkan jangan diaduk-aduk, dikhawatirkan alat pengaduk tersebut tidak steril, bisa jadi ada bakteri lain yang bersifat patogen malah berkembang dalam media tersebut. Setelah berbau seperti tapai, agak berbusa dan berwarna kecoklatan maka biang ini siap untuk dipakai, karena bekteri sudah berkembang biak. Perkembangbiakan maksimal biasanya setelah 3 minggu. Warna kecoklatan dan berbau seperti tapai atau ampas tebu. Berarti bakterinya berkembang sempurna (melimpah). Apabila sudah berubah warna menjadi kehitaman dan berbau bacin, berarti bakterinya telah mati.
 di ambil dari sumber http://belutpurbalingga.blogspot.com dan http://tehnikbudidayabelut.blogspot.com
Langkah II :
Pembuatan campuran Empon-Empon.
Bahan Baku : temulawak, kunyit, kencur dan temu ireng. kesemua bahan tersebut, diparut lalu disaring dan diambil airnya.
Langkah III :
Mencampur bahan Biang, Larutan Empon-Empon dan memfermentasikannya kembali
Yaitu dengan cara :
Kita ambil 1 liter ”Biang” + 1 ons gula pasir atau tetes tebu + 5 liter air kelapa & 5 liter air cucian beras (atau 10 liter air + 2 ons bekatul halus dan dilarutkan) + Larutan empon-empon, lalu kita fermentasikan lagi tapi cukup 1 minggu saja. Setelah proses fermentasi, baru kemudia larutan tersebut dimasukan kekolam belut.
Di ambil dari Sumber : http://belutpurbalingga.blogspot.com




Air Pemeliharaan
Lendir yang dikeluarkan belut memang menjadi salah satu mekanisme untuk menjaga agar tubuhnya tetap licin sehingga dapat membantu gerak belut dan menjadi sarana melepaskan diri dari musuh-musuhnya. Namun, dalam pemeliharaannya, lendir belut yang terus menerus dikeluarkan dalam jumlah yang banyak akan membahayakan belut itu sendiri, dari hasil penelitian mengemukakan, jika dalam air yang di gunakan untuk budidaya belut sudah terlalu banyak mengandung lendir yang dikeluarkan oleh belut itu sendiri maka air harus segera diganti, jika air tidak segera diganti maka air tersebut bisa meracuni belut itu sendiri sehingga bisa mengakibatkan kematian pada belut. Lendir yang sudah banyak di keluarkan juga akan sangat mempengaruhi kualitas air, terutama akan meningkatkan derajat keasaman/pH air. untuk itu, kualitas air menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Walau tidak ada persyaratan khusus, tetapi idealnya air yang digunakan sebagai media pembesaran belut harus jernih, memiliki suhu antara 25-28 derajat C, Tidak mengandung bahan kimia yang berbahaya, serta kendungan pH-nya tidak lebih dari 7.
Di ambil dari Sumber : http://belutpurbalingga.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar